Kotak Musik

Senja mulai tampak di ujung ufuk barat. Langit memerah indah karena cahaya matahari yang mulai tenggelam kembali ke peraduannya. Aku berjalan menyusur jalan ditemani bayanganku yang mulai memanjang ke arah timur. Ku pandangi matahari yang mulai hilang itu. Sayup sayup ku dengar suara adzan dari masjid di ujung desa dekat rumahku. Aku mempercepat langkahku agar segera sampai di rumah. Aku merasa sangat lelah setelah tadi kegiatan di sekolah yang begitu panjang. Kegiatan penerimaan siswa baru memang selalu memakan waktu hingga sore. Kadang aku pulang setelah menunaikan sholat maghrib di sekolahan. Kelelahanku karena kegiatan sekolah tadi, masih di tambah dengan jalan kaki dari halte bis menuju rumahku yang berjarak sekitar 500m itu.

“Huft… capeknya” keluhku setelah sampai di rumah. “mandi dulu sana.. dan segera maghrib”tegur ibuku. Aku menurut saja. Segera aku menuju kamar mandi untuk mandi dan menyegarkan tubuhku yang kelelahan ini. Setelah mandi rasanya begitu segar. Tapi aku tak punya banyak waktu untuk merasakan kesegaran ini. Aku harus segera ke masjid agar tidak terlambat sholat maghrib. Dengan tergesa gesa aku mengayuh sepedaku menuju masjid yang tak jauh dari rumahku.
Begitu tenang jiwaku setelah selesai menunaikan kewajibanku. Setelah aku memohon kepada Allah. Memohonkan yang terbaik untuk aku dan keluargau. Aku santai saja pulang dari masjid. Toh, aku tidak punya tanggungan belajar, karena di sekolah masih belum menerima pelajaran. Dan aku harus ikut memandu murid murid baru yang di terima di sekolahku. Sesampainya di rumah. Aku segera menuju dapur untuk mengisi perutku yang sedari tadi sudah memberontak untuk di masuki makanan.
Rasa laparku sirna setelah aku menghabiskan sepiring nasi lezat ala ibuku. Aku langsung merebahkan tubuhku di kamar. Memandang atap – atap rumahku. Bulan pun terlihat olehku mulai satu genting yang terbuat dari kaca. Indah sekali bulan malam ini. Tiba – tiba aku ingin sekali menulis puisi. Segera ku ambil tasku dan membongkar isinya untuk menemukan bulfoin dan buku kosong. Namun, aku malah menemukan secarik kertas yang telah berisi tulisan. Tulisan yang ada di kertas itu hanyalah kalimat “saya tidak akan mengulangi lagi” yang di ulang hingga 100X. Aku teringat, itu adalah hukuman yang ku berikan kepada salah satu murid baru yang berada di kelompokku tadi siang. Aku memergokinya membawa HP, padahal peraturannya tidak boleh membawa HP. Aku ingat betul wajahnya. Cantik sekali, senyumnya juga indah. Yang paling ku ingat adalah ekspresi ketakutannya ketika aku menyita HPnya. Ku coba untuk mengingat ingat namanya. Ting… Dina, ya namanya adalah Dina. Cantik sekali gadis ini. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi adik kelasku. Dan pastinya aku akan sering bertemu. Jujur saja, dalam hatiku mulai tumbuh harapan. Selanjutnya aku melamun, merenung penuh impian – impian indah tentang Dina. Hingga niatku untuk menulis puisi akhirnya sirna.
“Siap grak” aku mulai menyiapkan barisan kelompok yang ku pandu bersama Dion. “Adik adik, nanti kegiatannya keliling keluar sekolah. Nanti kumpul di hutan dengan kelompok lain. Nanti disana ada perlombaan” kata Dion memberitahukan kegiatan hari ini. “ya kak” sahut murid murid baru itu serempak. “sebelum memulai kegiatan, mari kita berdoa. Agar kegiatan berjalan lancar”aku memimpin do’a dan semua menundukkan kepala. “berdo’a selesai”.
Rombonganku berangkat. Aku dan Dion mengikuti di belakang murid murid baru. Sesekali mereka bertanya pada aku atau Dion. Setelah berjalan cukup jauh, banyak anak yang mulai mengeluh. Sebenarnya aku juga merasa sangat lelah. Tapi ini tugas yang harus ku kerjakan. Tiba – tiba satu orang murid baru terjatuh dan tertinggal oleh rombongan lain. Aku berlari mendekatinya dan memberi pertolongan. Ku amati gadis itu. “Dina?”gumamku dalam hati. Aku memandangnya sangat dalam. Dia juga menatapku. Aku dan Dina saling bertatapan. “aduh kak. Sakit” keluh Dina membuyarkan pandanganku. Aku bergegas memapahnya menuju ke bawah pohon yang sangat besar. Ku lihat luka di lutut kanannya. Cukup lebar dan darahnya banyak sekali. Aku mengambil air minum di tasku untuk mencuci lukanya.“auw”pekiknya. “tahan ya”kataku. Aku meneteskan obat merah di lukanya.”perih kak” keluhnya. “tahan ya, ini kakak obatin”kataku mencoba menenangkannya. Segera ku ambil sapu tangan yang ku bawa. Kemudian ku lilitkan di lukanya. “beres”kataku. “makasih ya kak” balasnya sambil menatap mataku. Aku mengangguk dan langsung mengalihkan pandanganku karena aku benar – benar grogi. Aku melihat rombonganku yang sudah agak jauh, karena mereka ku suruh untuk jalan dulu biar tidak ketinggalan jauh dari kelompok lain. “ayo jalan. Udah ketinggalan jauh tuh”ajakku. “masih sakit kak”jawabnya. Aku mengambil ponsel di tasku untuk mengirim SMS ke Dion. “Dion, berhenti dulu. Aku mau jalan, tapi kaki si Dina masih sakit. Jadi jalannya agak lama”ku kirim sms itu ke Dion. “loh.. kok kaka bawa HP? Kan nggak boleh. Kemarin kakak hukum Dina gara – gara bawa HP, malah sekarang kakak bawa. Uh…curang nih” protes Dina. “ups… hehehe.. kan kepepet dek. Daripada di tinggal jauh. Mau?”jawabku enteng. “iya, tapi curang. Ya udah, ayo jalan. Tapi, tuntun Dina ya kak”katanya sambil mencoba berdiri. “iya, dasar manja”gumamku.
Aku menuntun Dina berjalan menuju ke rombongan yang telah berhenti. “sorry lama, nih anak bawel banget sih”kataku saat sampai di rombongan. “halah ngaku aja cari kesempatan”balas Dion. Aku malu sekali, di tambah lagi sorakan dari anak – anak lain. Ku lihat Dina juga tampak malu. “wah… mencurigakan ini”kata seorang murid di tengah gerombolan diikuti tawa dari yang lain. “udah donk. Ayo jalan udah ketinggalan kita n”ajakku karena mereka tak juga berhenti menyoraki aku dan Dina. “kakak kan gara garanya lama tadi berhenti ma Dina, ngapain tu?”kata seorang murid lagi. Dina tampak malu sekali kemudian kembali ke barisan bersama teman – temannya. Kemudian rombonganku melanjutkan perjalanan menuju hutan tempat berkumpul dengan kelompok lain. Saat perjalanan, aku semakin gundah. Tak henti – hentinya aku memperhatikan Dina. “mungkinkah aku jatuh cinta?”tanyaku dalam hati. “hayo… ngelamun terus. Dina masih disini tuh”ejek Dion mengagetkanku. “apaan sih”protesku. Tak terasa kelompokku telah sampai hutan yang telah di penuhi kelompok lain. “lama sekali kalian, kemana saja”kata seorang guruku. “tadi kak Ridho pacaran ma Dina pak. Jadi lama”celoteh seorang murid diikuti tawa dari yamg lain. Aku langsung menghadap ke guru tersebut dan menjelaskan semuanya. Kelompok kami dipersilahkan untuk bergabung dengan kelompok lain. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan yang telah di jadwalkan. Yaitu, perlombaan antar kelompok.
Acara selesai, aku pulang karena hari sudah sangat sore. Sampai dirumah pukul 17.20 langsung bergegas mandi dan pergi kemasjid. Sepulang dari masjid, aku kembali kerumah. Aku mengingat, bahwa kegiatan MOS hampir berakhir. “nggak bisa ketemu Dina lagi donk”keluhku. Tapi, aku benar benar nekat untuk mendekati Dina. Hatiku telah terobsesi. Aku benar benar menyukainya.
Esok harinya kegiatan MOS tinggal sedikit karena hari ini merupakan hari terakhir. Namun, ku rasa ada yang beda dengan Dina. Dia jadi lebih akrab denganku. Dia sering minta bantuanku untuk mengerjakan tugas yang di berikan. Tentu saja aku sangat senang, karena bisa berdekatan dan membantu gadis idamanku itu. Kadang diselingi candaan dari aku dan Dina yang mengundang sorakan dari Dion dan yang lain. Hingga ketika tiba waktu pulang, Dina memintaku untuk mengantarnya pulang karena orang tuanya tak bisa menjemputnya. Kebetulan sekali aku membawa sepeda motor. Tanpa pikir panjang, aku langsung menerima permintaannya. Hatiku bersorak sorai. “rumah kamu mana? Jauh nggak?”tanyaku. “nggak jauh kok, tapi juga nggak deket”candanya. “waduh, gimana tuh jadinya. Deket nggak jauh nggak?”balasku. Aku mengendarai motor dengan sangat pelan. Tentunya aku tak ingin momen langka ini cepat berlalu. Aku dan Dian ngobrol ngalor ngidul sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya ku beranikan diri untuk menanyakan nomer Hpnya. “Dina, aku boleh minta nope kamu nggak?”kataku penuh harap. “buat apa kak?”tanyanya. “ya buat SMS tau telpon kamu lah”jawabku. “entar aja, kalo dah sampai rumah. Sekalian biaya ojek”katanya bercanda. “ye… aku turunin, main main ma tukang ojek”balasku. Tak lama kemudian, aku telah sampai di depan rumahnya. “udah nyampai kak”katanya. “loh udah toh?’jawaku. di turun dari motor kemudian meminjam Hapeku. ”kak, pinjem hapenya?” katanya. “buat apa?”tanyaku. “katanya minta nope, gimana sih?”jawabnya “oh ya, lupa aku. Kan belum di bayar ongkos ojeknya”balasku sambil menyerahkan HPku. Dina mengetik nomernya dan menyimpan di HPku. “nih kak”katanya mengembalikan HPku “jauh nih, ojeknya mahal” candaku “nih aku bayar”katanya sambil mencubit lenganku. “auw”keluhku. “makasih ya kak” katanya lagi. Aku menganggukkan kepala dan memutar motorku untuk pulang. Dina melambaikan tangannya. Hatiku sungguh senang tak terhingga. Rasanya semakin mencintai Dina. Sampai akhirnya aku sampai di rumahku tercinta.
Semenjak saat itu, aku dan Dina semakin dekat saja. Aku sering bercanda dengannya di kantin sekolah. Dia juga sering memintaku untuk mengantarnya pulang. Tentu saja membuatku semakin yakin, bahwa di juga punya rasa kepadaku. Aku semakin tidak bisa menahan rasa yang telah lama ku pendam. Aku ingin sekali segera mengungkapkannya kepada Dian. Telah sebulan dia menjadi adik kelasku dan hubunganku dengannya semakin akrab saja. Sebulan itu pula aku menyimpan rasa yang telah tumbuh subur di hatiku menjadi satu kata indah, CINTA. Hingga di suatu kesempatan. Ketika seperti biasa dia memintaku untuk mengantarnya pulang. “tunggu bentar Din, aku mau ngomong sama kamu”kataku dengan hati yang berdegup kencang “kok nggak sekarang aja kak, mang mau ngomong apa?”tanyanya. Aku menengok kanan dan kiri, memastikan keadaan sekolah sudah cukup sepi. “ya udah, sekarang saja. Aku mau ngomong sama kamu, kalo aku suka sama kamu Dina, bukan hanya suka, tapi aku CINTA sama kamu Din. Semenjak pertama kali bertemu, ketika aku menghukummu karena membawa HP dul. Entah kenapa, aku memandangmu sebagai sosok yang berbeda dari gadis lain. Kamu mau nggak nerima aku?”kataku dan hatiku serasa mau copot saja. “emh.. gimana ya. Dina bingung nih”jawabnya “jangan ragu, kalau kamu memang mau nolak aku. Katakan saja tidak” kataku yakin. “Dina takut, kakak nanti nyakitin Dina. Karena kebanyakan cowok seperti itu”katanya “beri aku kepercayaan Din, dan aku akan menjaga kepercayaan itu”jawabku meyakinkannya. Dina menggaruk kepala, berfikir mungkin.”ya udah kak, Dina sebenarnya juga suka sama kakak” jawabnya. Girangnya rasa hatiku, mendengar kata katanya tadi. Dengan penuh semangat, aku mengantarnya pulang. “aku akan menjagamu”kataku ketika sampai dirumahnya. “makasih kak”jawabnyadengan senyuman yang begitu indah Rasanya tiada yang lebih indah melebihi indahnya berpacaran dengan Dina. Setiap hari aku bersamanya, mengantarnya pulang. Bercanda ria sebelum pulang sekolah. Berdua dengannya begitu indah. Setiap hari terasa sangat indah. Tidak ada lagi masa laluku yang kelam semenjak kehadiran Dina. Setiap malam minggu, aku berkunjung dirumahnya. Ini adalah niatku, bahwa aku tak main main mencintainya. Dina juga mulai mempercayai aku. Menambah indah hubungan aku dengannya. Hingga suatu hari aku mengajaknya jalan – jalan. Dengan senang hati dia menerima.Aku mengajaknya ke pantai. Dina duduk di sebelahku dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku mengelus rambutnya. “kak, jangan tinggalin Dina ya” katanya “ya, kalau kita ditakdirkan bersama. Semua akan baik baik saja” kataku sambil mengelus rambutnya Aku dan Dina menikmati keindahan samudra yang terhempas di pelataran mata. “samudra itu indah ya” kataku “ya kak, indah banget samudra itu. Samudra ini yang menjadi saksi kita ya kak, tidak akan saling menyakiti selamanya” katanya. Aku mengangguk lemah. Aku mengajak Dina pulang, karena matahari mulai tenggelam. Takut kena marah dari ayah Dina. Sebelum pulang, aku mengajaknya kesebuah toko. Aku ingin membelikannya kotak musik dan ternyata di juga membelikanku kotak musik. Yang ada foto dirinya, dan dikotak musik yang ku berikan untuknya juga ku sematkan fotoku. Sesampainya di rumah, aku mendengar percakapan ayah dan ibuku. “jadi kapan kita pindah pak” tanya ibuku “mungkin rabu, atau kamis bu” jawab ayahku “mendadak sekali”kata ibuku lagi Aku terkejut mendengar kata “pindah”. Aku bergegas berlari menanyakan kepada ayah dan ibuku. “pak, bu siapa yang mau pindah?” “kita Ridho, kita akan pindah ke kalimantan” jawab ibuku Aku tercengang. “kenapa harus pindah?”tanyaku lemas “bapak dipindahkan kesana. Kita disana entah erapa lama, atau mungkin selamanya”jawab bapak Aku menunduk lesu. “bagaimana dengan Dina? Aku sedang berbahagia dengannya” batinku merintih “Ridho, maafin ibu dan bapak. Ibu tahu, kamu nggak rela ninggalin Dina. Tapi mau gimana lagi? Ini tugas”kata ibuku menjelaskan “tapi, kenapa begitu cepat”aku menjawab kemudian berlari menuju belakang rumahku. Aku termenung disitu. Tanpa kata. Memandang kosong jauh entah kemana. Fikirku melayang jauh tak terbayang apa yang akan ku rasakan berpisah dengan Dina untuk selamanya. Terpisah oleh samudra yang menjadi saksi janjiku dan Dina untuk selalu bersama. Aku menangis tak sanggup menahan air mata. Tapi entah sejak kapan, ibu sudah ada di belakangku. “maafin bapak dan ibu ya”kata ibu sambil mengelus rambutku Aku tak menjawab, hnya anggukan kecil yang ku berikan. “ayo masuk”ajak ibuku Aku menurut saja. Mengikuti ibuku dengan menunduk lesu. “3 hari lagi aku harus pergi Dina” batinku 3 hari ku manfaat sebaik – baiknya. Aku selalu mengajaknya jalan – jalan. Di pantai bermain kotak musik. Saling bercanda. Aku bersikap biasa seolah olah tak ada beban yang ku bawa. Aku masih ragu untuk menceritakan kepergianku. Dadaku sesak jika mengingat semua itu. Aku terdiam ditengah candaan Dina. “kakak kenapa?” tanya Dina. “gak kenapa napa Din”jawabku agak kaget. Aku membuka kotak musik yang dia bawa. Kotak musik itu mengeluarkan musiknyayang sangat nyaman di dengar. Lampu yang menyala kelap - kelip melingkar berbentuk hati. Sangat indah. “kita selamanya kan kak?” tanya Dina. Hatiku hancur luluh lantak seketika mendengar pertanyaan Dina. “maafkan aku dina”batinkua. “kak?” dina mengeluh meminta jawaban. “heem”jawabku singkat. Dina tersenyum manis, lalu menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku duduk memeluk lutut menghadap arah matahari yang hendak tenggelam. “Din, pulang yuk. Udah sore”ajakku. Dina mengangguk lalu mengikutiku menuju sepeda motor. Aku mengantarnya pulang. “nggak mampir kak”tanyanya ketika telah sampai di depan rumahnya.”nggak Din, udah sore”jawabku lalu mengecup keningnya kemudian pulang. Aku gundah sekali, besok adalah hari terakhirku disini. Karena lusa aku sudah harus berangkat ke kalimantan bersama keluargaku. Hari terakhirku, aku tak mengajak Dina jalan – jalan. Tapi setelah maghrib aku pergi menemuinya dirumahnya langsung. “assalamu’alaikum” kataku mengetuk pintu. “wa’alaikum salam”Dina menjawab lalu membukakan pintu. “eh.. tumben kak, malem kamis udah main. Ayo masuk”katanya manja sekali. Aku tersenyum lalu masuk mengikutinya. “mau minum apa nih?” katanya ramah sekali. “nggak usah Din. Aku mau ngomong penting nih”kataku dengan nada serius “ada apa sih serius banget?” tanyanya penasaran Aku menghela nafas panjang. Aku tak tega mengatakan ini kepada Dina. “ada apa kak?” tanyanya lagi “maafin aku ya Din?, aku akan segera ninggalin kamu” kataku “kok bisa? Kakak mau mutusin Dina? Tanyanya lagi “nggak mungkin aku mutusin Dina. Aku sayang banget sama Dina” kataku “terus kenapa?” “besok aku dan keluargaku akan pindah ke kalimantan. Bapak dipindahkan ke sana” kataku hampir menangis Dina tercengang tak percaya. Dia mulai menangis terisak. “berapa lama kak?” tanyanya di sela isak tangisny “mungkin selamanya, maafin aku ya” kataku mengelus rambutnya “Dina nggak rela kak, nggak rela”katanya sambil memelukku erat. Aku juga memeluknya. “maaf ya Din, aku pun nggak rela sebenarnya. Tapi, aku harus ikut ortuku”kataku menjelaskan “kakak jangan pergi”katanya mempererat pelukannya “harus Din”kataku sambil mencoba melepaskan pelukannya Aku mengecup keningnya. Ku usap air mata yang telah membanjir di pipinya. “aku cinta kamu selamanya,Din. Tapi kisah kita harus berhenti. Percayalah, kamu akan dapatkan yang lebih baik daripada aku”kataku “kak? Jangan lupain Dina ya”katanya “nggak akan Din, kamu di hatiku selamanya. Besok antar aku ke pelabuhan ya” kataku Dia mengngguk. “aku pulang dulu”kataku seraya mengecup keningnya lagi dan berlalu meninggalkannya. Air mataku terus menetes tiada henti. “kak.. ingat kotak musik kita ya. Ingat Dina selamanya”kata Dina terisak ketika di pelabuhan. “ya Dina.kamu jangan lupain aku juga ya”kataku mengelus rambutnya. Aku benar benar tak ingin pergi. Aku ingin tetap disini bersama Dina. “ayo Ridho, kapalnya mau berangkat” kata ibuku. Aku melepas pegangan tangan Dina yang sangat erat. “selamat tinggal Dina”kata terakhirku ku ucapkan sambil melambaikan tanganku. Dina menunduk, menangis terisak. Air matanya deras mengucur dari pelupuk matanya. Tersayat rasanya hatiku melihat Dina yng menangis seperti itu. Aku juga menangis, tak kuasa menahan air mata yang terus menggedor keluar dari mataku. Hatiku tercabik cabik sakit sekali. Aku melambaikan tangan lagi ketika telah berada di atas kapal. Dina dan teman temanku juga melambai. Ku lihat Dion berlari mendekati Dina. “Din, ini dari Ridho. Katanya dia nggak tega kalau memberikan langsung buat kamu”kata Ridho menyodorkan selembar kertas yang ku titipkan kepadanya “apa ini kak Dion”tanya Dina “nggak tahu”jawab Dion Dina membuka kertas itu ___________________________________________________________________________________ For : Dina
KOTAK MUSIK DAN PERPISAHAN KITA
Kisah kita sungguh indah
Dunia seperti surga untuk kau dan aku
Itu kisah yang sederhana
Namun menyimpan jutaan makna

Melodi yang terdengar
Lambat laun meyakinkan kau dan aku
Bahwa selamanya kau di hatiku
Tapi ku tak berdaya
Mengelak dari waktu ini
Waktu yang memisahkan kita
Pisahkan cinta kita

Ku ingin mengenangmu selamanya
Bersama kotak musik darimu yang ku bawa
Kotak musik yang menyatukan kita
Kotak yang dendangkan lagu asmara

Ingatlah aku selamanya
Bersama kotak musik dariku yang kau bawa
Di samudra ini kita berjanji untuk bersama
Di samudra ini pula kita rasakan perpisahan yang menyiksa

Ingat aku meski kau di ujung sana
Kisah kita telah sampai langit
Telah sampai di gerbang surga
Percayalah,kita akan berjumpa lagi di sana

From: Ridho ___________________________________________________________________________________ Dina menangis membaca puisi yang ku tulis semalam dan kutitipkan kepada Dion. Dia memandang kapal yang ku naiki yang telah jauh meninggalkannya. Dion mendekatinya, menenangkannya lalu mengajaknya pulang. Aku meringkuk dikapal. Tak kuasa menahan tangis. Ku buka foto Dina, dan ku mainkan kotak musik yang kubawa. Nada yang dulu keluar dari kotak musikitu, terdengar sangat indah ketika bersama Dina. Namun, sekarang tak indah lagi. Karena aku dan Dina telah terpisah oleh luasnya samudra.

Reaksi: 

Lirih

LIRIH

Jono merenung diatas rumah pohon di belakang rumahnya. Ia melamun sendirian sejak pulang sekolah tadi. Fikirannya kacau, tak menentu memikirkan sesuatu yang lama ia sesali. Tatapannya tertuju pada dua burung yang sedang bertengger di pohon yang berada tepat didepannya. “Mesra sekali” gumam Jono dengan nada keirian. Semenjak lulus SMP, Jono benar – benar kacau. Perpisahan dengan Puri gadis yang sangat dia cintai, yang harus berakhir dengan permusuhan karena kesalahannya sendiri. Jono tak mampu menghapus semua itu. Ia teringat betul ketika ia dan Puri masih bersama, ketika ia dan Puri bermain di sungai, ketika bergandengan tangan sepulang sekolah, ketika di marahi orang tua Puri karena pulang kesorean, ketika berboncengan dengan sepeda. Semua kenangan itu masih mendengung keras di fikirannya. Air matanya menetes dan dengan cepat ia usap. Jono menyandarkan tubuhnya di batang pohon besar itu. Menikmati semilir angin yang membelai manja tubuhnya. Tatapannya kosong entah memandang apa. Fikirannya melayang jauh, mencoba menerawang mencari kenangan – kenangan itu di memorinya. Air matanya menetes kembali, kali ini menyadarkannya dari lamunannya tadi. Jono sedih sekali mengingat kejadian – kejadian bersama Puri. Jono mengusap matanya yang memerah dengan kedua tangannya. Membersihkan air mata di pipinya yang basah. Hatinya bergemuruh marah, menyesal, hancur bercampur mengaduk aduk perasaannya. Fikirannya kalut menghancurkan konsentrasinya. Jono menjadi sering melamun dan tak berkonsentrasi. Jono menghela nafas panjang mencoba merilekskan perasaan hatinya yang semakin sesak. Kembali ia bersandar di atas rumah pohon yang sejuk itu. Kali ini tatapannya tertuju pada seekor ulat yang sedang menggerogoti daun yang masih tampak hijau dan segar. Ia mengerenyutkan dahinya seperti sedang berfikir. “seperti itu kah cinta Puri kepadaku sekarang. Yang habis digerogoti ulat kebencian?”Gumam Jono menyesali kesalahan yang pernah yang ia lakukan dulu. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaargggggggggghhhhhhhhhhh… Jono berteriak kencang diatas rumah pohon untuk melampiaskan perasaan hatinya.
Jono mengambil hapenya di saku celana sebelah kanan. Ia melihat jam di layar utama hape itu. “Pukul 15.12” gumam Jono. Berarti sudah lebih dari dua jam ia merenung di rumah pohon itu. Namun, dia belum berniat untuk turun dari sana. Jono masih ingin melamun, melamun dan melamun. Jono mengambil hapenya lagi yang kali ini ia letakkan di papan rumah pohon itu. Jono sibuk memainkan Hapenya. Memencet mencet tombol hape kesayangannya itu. Tiba – tiba Jono diam tak bergeming. Kembali hatinya kalut melihat foto Puri di hapenya. Foto yang ia dapat ketika acara pembagian zakat di sekolah itu. Ketika itu anak – anak yang dipilih menjadi panitia di bagi menjadi dua tim. Satu tim membagi zkat di sekolahan, sedangkan satu tim lainnya harus membagi zakat di desa terpencil dan didaerah orang kurang beruntung. Jono dan Puri satu tim yang harus ke desa tersebut.Panitia mengenakan pakaian muslim. Jadi panitia putri harus mengenakan jilbab. Dan sebelum Puri mengenakan jilbabnya, Jono mengambil gambar pujaan hatinya itu. Puri cemberut merasa kecolongan. “eh.. maling nih” ujar Puri. “nggak papa donk.. wek” balas Jono. Jono berlari, sementara Puri mengejarnya penuh kemesraan. “udah donk.. ikhlasin aja”canda Jono. “kamu maling sih. Aku kan malu” Balas Puri. ”udah buruan ganti baju gih. Entar telat lho. Kan motorku jadi lambat kalau lagi sama kamu”Canda Jono lagi. “ye.. bisa aja nih kamu. Ya udah aku ganti baju dulu. Kamu nunggu aku disini aja. Jangan macem – macem” timpal Puri. Jono tersenyum kemudian mengedipkan mata sebelah kanannya. Jono bahagia saat itu, saat kemesraan yang menyatukannya dengan Puri. Lamunannya buyar ketika hapenya berdering. “1 pesan diterima dari Danang”. Jono mengusap air matanya yang yang kembali terjatuh. Ia membuka sms dari Danang. “lagi dimana nih bro? entar malem kumpul ya di rumahku. Mumpung malming” bunyi sms itu. Jono membalas sms itu dengan singkat. “Oke”. Jono meletakkan hapenya sekenanya kemudian menghembuskan nafasnya dalam – dalam mencoba menenangkan kegalauan hatinya.

Jono berniat turun dari rumah pohon itu karena hampir 3 jam ia merenung di rumah pohon itu. Ia menapaki satu persatu anak tangga yang berjumlah 15 itu. Ia meloncat saja untuk mempercepat waktu ketika sampai dianak tangga ke 6 dari bawah. “Bluuk” ketika kaki Jono menghantam tanah. Jono berdiri membersihkan kaosnya yang agak kotor. Ia memandang keatas melihat rumah pohon yang tadi ia tempati. Jono melangkah menuju rumahnya. Kemudian menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya. Jono memejamkan kedua matanya. Menikmati alunan lagu dari hapenya yang ia nyalakan tadi setelah turun dari rumah pohon.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Jono terbangun dari tidurnya tepat pukul 5 sore. Ia bergegas mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lemas. Pukul 17.15 Jono selesai mandi. Jono duduk menonton televisi bersama keluarganya. Pukul 17.30 Jono pergi ke masjid untuk sholat maghrib.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

“hai jon.. kok telat?” sapa Danang ketika Jono datang. “Iya nih.. tadi ada urusan ma ibu” jawab Jono. “kenapa nih muka di tekuk?.. Puri?”Tanya Danang menebak. “siapa lagi?”balas Jono. “Udahlah bro.. kamu nggak boleh terpuruk gini?. Kamu tiap hari melamun. Gini aja? Kamu datengin tuh si Puri. Terus kamu bilang semuanya ke dia. Kamu bilang semua yang kamu rasain?” kata Danang memberi saran.”nggak gampang nang.. Kamu tahu kan, dia itu menghindar kalo lihat aku. Dia udah terlanjur benci ma aku “ jawab Jono. Danang terdiam, mungkin berfikir mencarikan solusi untuk sobatnya itu. “gini aja kak, besok tanggal 26 sekolahan ngadain perpisahan. Kak Jono dateng aja kesana. Entar aku temuin deh ma Puri”kata dari Sella yang tiba-tiba nimbrung. Sella adalah adik danang yang sekaligus teman sekelas Puri.”bener nih Sel?”jawab Jono antusias. “Ya.. mau gak?” Balas sella. “Mau donk.. maksih ya”kata Jono. Sella hanya mengangguk. Jono tampak sedikit lebih tenang. Ia kemudian bercanda dengan Danang dan Sella hingga pukul 10 malam. Jono berpamitan pulang untuk beristirahat.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Tanggal 25 Juni, Jono tampak kebingungan. Esok ia harus bertemu dengan Puri dan membuktikan perasaannya sekaligus meminta maaf dan ingin meminta Puri kembali lagi untuknya. Jono berfikir keras mencari metode yang tepat. Namun, tak ada yang pas. Otaknya terus dipaksa untuk memikirkan semua itu seharian dalam perasaan gundah. Hingga pukul 11 malam pun tak ada cara yang menurutnya tepat. Jono tak bisa tidur malam itu. Jika pun ia tertidur hanya sebentar dan bangun lagi karena fikirannya tak tenang.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Jam 8 pagi Jono telah bersiap dengan sepeda motornya. Ia menggeber motornya menuju ke sekolahan Puri. Di perjalanan ia merenung. Mungkin masih terfikir apa yang ia fikirkan semalam. Sesampainya di depan sekolahan, tanpa ragu ia memasuki jalan menuju sekolahan SMP yang ia cintai itu. Jono adalah alumni SMP itu, jadi dia sudah mengenal baik guru – guru disitu. Ia berhenti didepan gerbang sekolahan. Kemudian menjalankan motornya lagi menuju tempat parkir. Ia memarkirkan motornya di dekat parkir guru. Suasana telah ramai, karena sebentar lagi acara akan dimulai. Jono berjalan menuju kantor guru. Ia bertemu guru – guru yang sangat ia kenal. Kemudian Jono menyalami semua guru disana.
Pukul 08.45 acara tampak telah mulai. Jono mencari – cari keberadaan Sella dan Puri. Ia memandangi seluruh sudut sekolahan, tapi tak ada juga. Jono memutuskan untuk menunggu hingga acara selesai. Ia menikmati acara dan penampilan band – band lokal untuk hiburan. Sama seperti acara perpisahannya dulu. Pukul 10.30 acara hampir mencapai puncaknya. Namun, tak ada tanda – tanda keberadaan Sella dan Puri. Jono semakin tegang. Ia berdiri diantara orang – orang lain. Memandangi sekeliling sekolah mencari keberadaan Sella dan Puri. Kembali Jono menengok jam dihapenya. Tiba – tiba sebuah sms diterima dari Sella. “kak.. aku ma Puri ke kamar mandi. Cepet kesini”. Jono berlari menerjang orang – orang yang terheran – heran melihatinya. Jono tak ingin membuang kesempatan ini. Ia berlaritanpa hentinya menuju kamar mandi yang jaraknya sekitar 150 meter dari tempatnya tadi. Tiba di kamar mandi Jono ngos –ngosan. Dia menunggu Puri dan Sella keluar dengan jantung yang berdebar kencang.
Sella dan Puri keluar dari kamar mandi. Jono semakin gugup. “Puri,,,”Sapa Jono ragu. “Ngapain sih kamu masih ganggu aku? Ayo pergi Sel” jawab Pur ketus. Jono memegang pergelangan tangan Puri. Mereka saling beradu pandang sangat tajam. Akhirnya Puri memalingkan pandangannya dari Jono. “Puri.. dengerin aku dulu”Kata Jono.”Apalagi? bukannya aku udah bilang dulu waktu lebaran. Jangan urusin aku lagi. Semua tak akan kembali seperti dulu lagi” jawab Puri. “Tapi Puri.. aku cinta sama kamu” kata Jono lagi. “cinta? Kamu bilang cinta saat kamu pacaran sama sahabatku” jawab Puri. “Lia maksud kamu? Kamu nggak tau kan Pur.. ketika itu aku pisah sama kamu. Kamu sakiti aku. Kamu masih inget kan hari jum’at itu? November 2008 Puri? Waktu kamu milih pisah sama aku. Dan aku tak lantas membenci kamu, aku tetap mencintai kamu. bahkan aku nunggu kamu lama. Aku nggak pacaran untuk nunggu kamu. Tapi sifatmu dulu benar benar hancurkan aku. Acuhmu, cuekmu, sakit Puri… Sakit…”Jono menangis untuk pertama kalinya di depan Puri. Puripun menangis.”Lia, yang nemenin aku. Tempat curhatku. Aku lelah tersakiti terus. Aku pengen bahagia Puri, dan aku kira bisa aku dapet dari Lia. Ternyata nggak. Malah aku nyakitin Lia, karena aku benar benar tak bisa lupain kamu. Sampai saat ini nggak bisa lupain kamu Puri. Aku ingin kamu kembali. Mengulang kebersaman kita dulu”Lanjut Jono terisak. Jono mengusap air mata dipipinya. Menahan nafas mencoba menguatkan hatinya. Sella tampak diam tak bergeming. Begitu pula Puri yang juga terdiam membisu. Terdengar sayup – sayup suara dari lapangan tempat penyelenggaraan acara perpisahan. Jono menatap wajah Puri yang tampak memerah. Jono ingin membelai wajah Puri, namun tak sampai ia lakukan. “Buktikan yang harus kamu buktikan, tunjukkan yang harus kamu tunjukkan”jawab Puri. Jono terdiam. Dengan cara apa dia harus membuktikannya. Tak lama kemudian, Jono berlari menuju panggung tempat acara perpisahan diselenggarakan. Acara tinggal hiburan saja. Jono melompat menaiki panggung. Penonton terkejut dan tampak bingung. Begitu juga band yang akan tampil. Jono mengambil posisi. Berdiri tegak ditengah panggung mengambil mic untuknya yang disaksikan ratusan pasang mata termasuk mantan guru dan teman – temannya. Penonton masih bingung dengan apa yang akan dilakukan Jono. Jono mulai bersuara.
“Maaf para hadirin yang terhormat. Saya merusak acara perpisahan ini. Mungkin para hadirin heran dan jengkel melihat saya.Tapi, saya mohon tahan sebentar rasa itu untuk saya bersuara”suara Jono menggelegar seperti orasi wakil rakyat yang sedang obral janji. Penonton bersorak terutama teman teman Jono. “Saya Jono Setiawan. Hanya ingin memberi bukti kepada seorang gadis siswa sekolah ini, Puri Handayani. Saya ditantang untuk membuktikan perasaan saya kepadanya. Saya bingung.. mau saya buktikan lewat lagu, saya tak bisa bermusik. Mau lewat puisi, sayapun tak ahli. Dan inilah cara saya. Berdiri tegak dihadapan hadrin sekalian. Yang akan mendengarkan semua perasaan dihati saya kepada Puri. Entah ini cara yang benar atau salah. Saya tidak tau… yang saya tahu, Saya benar – benar sayang sama Puri. Untuk Puri.. Dengarkan aku.. ini aku yang mencintaimu. Mengalahkan rasa malu kepada ratusan pasang mata yang menyaksikanku sekarang. Percayalah hanya kamu yang ku sayang” Suara Jono sangat lantang mensunyikan suara para penonton yang terhanyut pada luapan emosi Jono. “Saya akan tunggu Puri disini sampai nanti. Sampai nanti dia naik keatas panggung ini”lanjut Jono.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Waktu terus berputar. Perlahan penonton pergi dan semakin berkurang. Jono semakin gelisah, karena Puri tak jua datang. !5 menit ia beridi dipanggung. Penonton tinggal sedikit yang setia menunggu. Jono masih berdiri tegak. Menyaksikan penonton yang perlahan – lahan mulai habis. 25 menit Jono menunggu, tiba – tiba Sella berlari menuju kearahnya. “Puri udah pulang. Dia nitipin ini buat kak Jono” kata Sella menyodorkan selembar kertas untuk Jono. Jono menerimanya dan berlari menuju sungai di bawah pohon bambu yang teduh di belakang sekolahan. Tempat yang juga memiliki kenangan antara di dan Puri. Ketika itu ia berdua dengan Puri saat jam istirahat di tepi sungai yang sekarang kering tak berair. Ngobrol penuh kemesraan. Jono memandang pujaan hatinya iru. Ia membelai rambut Puri ketika ada seekor serangga nakal yang jetuh di rambut Puri. Jono tersadar dari lamunan masa lalu di tempat itu. Kemudian Ia membuka lipatan kertas dari Puri dan membaca tulisan dari Puri di kertas itu.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Jono, maafin aku pulang duluan. Aku telah mewakilkan semua dikertas ini. Aku nggak sanggup ngomong langsung ke kamu Jon. Sekarang aku tahu Jon, kalau kamu benar – benar sayang ma aku Aku bangga pernah bersamamu. Aku tak akan lupakan itu. Tapi, semua sudah terlambat, aku sudah punya pacar. Seorang cowok yang aku sayangi. Sama seperti aku sayang sama kamu. Maafin aku, mungkin ini nyakitin kamu. Tapi, sejak kamu pacaran dengan Lia, aku telah memutuskan untuk pergi darimu sepenuhnya. Mencari cinta yang lain.
Tak seperti kamu, yang setia menanti aku meski aku nyakitin kamu. Terima kasih atas cinta yang kau beri, juga kenangan – kenangan indah yang kau ukir dihatiku. Semua menjadi sejarah untuk hidupku. Kini aku telah menemukan jalanku bersama pangeranku. Bukan kamu. Maka temukanlah jalanmu bersama permaisurimu. Dan aku yakin, akan kau dapat yang jauh lebih baik daripada aku.

Salam cinta, Puri
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Jono menangis, hatinya teriris membaca tulisan Puri. Ternyata Puri yang ia nanti selama ini telah punya pacar. Hancur hati Jono tak mampu terbendung air matanya. Kemudian dia mengambil bulfoin di tasnya. Dan menulis sesuatu di balik tulisan Puri.
Jono tampak sibuk menulis dengan penuh perasaan. Kemudian ia beranjak menuju Sella yang sedari tadi menungguinya. “tolong kasih ke Puri”kata Jono. Sella mengangguk.
“Puri..ini dari kak Jono”kata Sella setelah sampai dirumah Puri. “ya, maksih sel”balas Puri. Sella kemudian pulang setelah berpamitan dengan Puri. Puri membuka lembaran kertas yang telah lusuh itu.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Lirih
Ketika lama penantianku
Mengharapmu hadir lagi dihatiku
Tertimpa ribuan rintang yang menghadangku
Tetap tegar menanti kehadiranmu

Masih dalam alunan bait sendu
Terhenyak ku saksikan lagi indah matamu

Mata itu yang dulu ku banggakan
Menjadi penerang dalam pekat kehidupan
Semua darimu timbulkan harapan
Semua darimu takkan pernah terlupakan

Lirih hati teriris belati
Kala ku tahu kau telah punya kekasih lagi

Terima kasih
Selama ini kekosongan hati telah kau isi
Kau telah temukan jalanmu bersama pangeranmu

Dan aku takkan mencarinya lagi
Karena selamanya hanya kamu yang kucintai
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Puri menangis dan meremas remas kerts itu hingga benar benar lusuh. Kemudian Puri berlari kesungai kecil dekat rumahnya yang juga memiliki kenangan antara dia dengan Jono. Puri melempar kertas kumal itu ke air yang membawa kertas itu dan melunturkan tinta dikertas itu. Seperti cintanya yang telah luntur kepada Jono. Di bayangnya masih teringat kebersamaannya dengan Jono. Ketika itu ia bermain dengan mesra bersama Jono di sungai itu. Saling mengejar, saling menyiram dan saling tertawa. Namun, segera dia hilangkan. “aku sudah temukan jalanku dengan pangeranku”kata Puri.

Reaksi: 

Greatest Moment on 17 - 11 - 08

Hari itu....
Hari senin yang paling bersejarah di hidupku
Ketika ku mengikatmu dalam sebuah cerita cinta
Yang tiada mungkin ada habisnya

Beranjak sekian detik demi detik
Menuliskan setiap kenangan yang kian menarik
Kau lah yang terbaik
Tak pernah terganti walau berulang kali dunia terbalik

Hari itu...
Berkisah tentang segala bahagia yang kurengkuh
Bersamamu Kasih... PUJaan hatIku

Kini semua hilang
Mungkin bagimu telah menjadi ampas tak berguna yang harus dibuang
Atau mungkin sampah yang harus dibakar dengan api kebencian

Aku tahu jika cintamu padaku telah hilang binasa.
kusadari,bahwa tak sedikitpun kau harapkan lagi aku ada.
Mungkin tinggalah serpihan sesal ketika jiwa memendam lara..
juga tinggal elegi yang kian memperpuruk luka.

Mungkin dibenakmu, masa indah itu telah tiada
Atau mungkin dengan sengaja kau menghapusnya
Tapi, Aku masih menyimpannya.
menyimpan segala cerita cinta kita.
Aku tak ingin semua ini kan hilang percuma.
aku ingin semua ini berguna.
Karena semuanya adalah yanag terbaik yang pernah bersemayam dalam jiwa.

<171108>

Kasih... mungkinkah kau kembali
Jika tiada mungkin..
Ijinklah aku tetap menyayangi
Dan harus ku yakini....
Cintaku padamu takkan padam ataupun mati

Aku telah berjanji
Tiada yang lain dihatiku
Hanya kamu seorang yang kan menguasai
Segala cintaku dan seluruh isi ahati ini

<171108>

Kasih... Mungkinkah kau mengerti
Jika tiada mungkin..
Ijinkalnah aku tetap disini
Menunggumu kan datang menghampiri walau dengan seribu benci
Agar kau mengerti, betapa kuat hatiku mencintai

<171108> The greatest moment....

Reaksi: 

-memories-

Dulu, ketika masih banyak keceriaan
Antara kau dan aku
Ketika kau rebahkan kepalamu dipangkuanku
Ketika kubelai lembut rambutmu

Dulu, ketika masih banyak cinta
Antara kau dan aku
Membahana menembus langit ke tujuh
Menyerukan kata cinta yang menggebu

Ketika kau dan aku masih satu
Ketika hatimu adalah hatiku
Tak ada yang mampu
Menandingi bahagiaku

Bahagia karenamu
Karena aku memilikimu

Ketika jiwaku masih merangkul jiwamu
Tak pernah ada luka yang menyakitiku
Semua indah bila kau ada disisiku

Ketika antara kau dan aku
Masih terpaut sebuah janji
Janji tuk saling mengisi dan memahami

Kini, ketika ku sadari
Bahwa semua telah berlalu
Berlelu bagaikan angin berlari
Membawa kabur kenangan kau dan aku

Tak pernah kembali
Terlanjur jauh angin itu telah berlari
Tinggalah bingkai dan puih - puih masa lalu
Yang memang harus ku sesali

Kini harus tanpamu
Harus tanpamu aku terpaku
Terpaku dalam ruang sepi yang menyudutkanku
Menghimpit sesak ragaku dengan bayang - bayangmu

Aku menangis sendiri
Mencoba mencipta sebuah lagu
Kan aku dendangkan selalu sepanjang umurku
Selama ku masih mampu mengingatmu
Mengingat kenangan kenangan antara kau dan aku

Reaksi: 

Masih Merindukanmu

Lama ku terdiam
Terjatuh kedalam jurang yang begitu dalam
Tak mampu lagi melangkah
Menyusuri hari yang kian kelam

Dalam bayang - bayang masa lalu..
Tak pernah lepas segalanya tentang dirimu..
Hidupku hambar tanpa dirimu,
hidupku kurang tanpa hadirmu..
Ku harap angin kan mampu,
menyampaikan rasa rinduku padamu,
rasa rindu untuk bersanding lagi denganmu

Malam ini,
tak jauh beda dari malam - malam yang lalu,
semenjak kau pergi, hari hariku tiada arti..
Hidupku kelabu, seakan tak ada warna yg menghiasi..

Malam ini,
masih saja ku merindu,
meski ku tahu..
tak sedikitpun kau ingat kenangan tentang kita dahulu

Semoga kau dengar segala rintihan hatiku
Semoga kerinduanku padamu juga kau rasa
Hanya sang waktu yang tahu
Bahwa rasa cintaku padamu masih tersimpan didalam dad

Reaksi: 

Musnah Sudah

Rasa dalam angan yang dulu menggelora
Mencoba menggambar dengan pena khayalan
Menggambar tentang dirimu yang mempesona
Mendeskripsikan indahmu meski hanya bayangan

Lama ku menanti
Menantimu kan mengobati
Lama ku menunggumu
Menunggu cinta dari hatimu
Setiap yang ku dapat
Hanya luka yang membuat ku sekarat
Karena acuhmu yang menghiasi penantianku
Karena kamu tak pernah mau mengerti aku

Lelah aku sengsara
Menahan duka sendiri dalam jiwa
Tercabik cabik rindu asmara
Terkubur kepalsuan yang terlihat nyata

Aku masih menantimu
Tapi kau selalu melukaiku
Sekejap rasa kasih dan sayang mulai hilang,
tertutup oleh kabut kelelahan dalam penantian,
hati yang selalu terguncang karena hatimu sekeras batu karang,

sia sia ku menantimu,
jika tak pernah kau pahami aku,
percuma ku mencintaimu,
jika kau tak mau tahu akan perasaanku

Semilir angin malam,
dalam dekapan dingin yang memilukan,
menghembuskan nafas kenelangsaan
dalam lentera hati yang terbakar rindu asmara,
sungguh tiada obatnya,
jika terluka karena cinta. .
Karena cinta tertanam dan selmanya melekat direlung jiwa

Reaksi: 

Jauh Dimata Dekat Dihati

Terasa Sesak
Terhimpit rindu yang meledak
Dalam angan melambung tinggi
Menembus dimensi cakrawala

Terasa Resah
Saat angin malam tak jua mendesah
Menunggu rembulan menyiramkan cahaya teduh
Dalam alunan syair hati yang bergemuruh

Kurasakan de javu malam ini
Saat kesendirian menyudutkanku dalam sepi
Dalam rangkaian khayal aku berkreasi
Membentuk indahmu hingga terasa ada disisi

Alunan imajinasi yang membahana
Tentangmu, yang selama ini aku puja
Menjadi permaisyuri dambaan jiwa

Tentangmu semua indah
Meski kau dan aku jauh terpisah

Kau jauh disana
Aku duduk termenung sendiri disini
Aku telah terpanah asmara
Hingga meski jauh dimata kau tetap dekat dihati

Reaksi: